Lima Puluh Kota

Persulit Perpanjangan Kartu PWI Syafri Ario, Agenda Terselubung Menjegal Pesaing 

57
×

Persulit Perpanjangan Kartu PWI Syafri Ario, Agenda Terselubung Menjegal Pesaing 

Sebarkan artikel ini

LIMAPULUH KOTA|Matapublic.com Salah seorang anggota PWI Luak 50 (Limapuluh Kota-Payakumbuh) Syafri Ario menyesalkan sikap pengurus PWI Luak 50 yang diketuai Aspon Dedi karna mempersulit atau ada gelagat menggugurkan pesaing calon Ketua PWI Luak 50 berikutnya sebelum pemilihan dengan mempersulit perpanjangan kartu PWI melalui rekomendasi ketua kabupaten kota.

Seperti diketahui, Syafri Ario adalah salah satu dari 3 orang anggota PWI Luak 50 yang berpotensi dan bisa mencalonkan diri menjadi Ketua PWI Luak 50 karna jenjang level kartu PWI nya adalah yang tertinggi yakni disebut anggota “Biasa” Kemudian kartu UKW nya juga yang tertinggi yakni UKW Utama.

Syafri Ario memang mempunyai track record menterang di dunia wartawan, Ia adalah mantan wartawan Haluan, Bisnis Indonesia, LKBN Antara, TVRI, Inilah Koran, Padang Tv, Go Riau dan saat ini juga mengelola perusahaan pers sendiri serta menjadi Pimred di sejumlah media.

Adapun selain Syafri Ario, 2 orang lainnya adalah, Aspon Dedi sebagai incumbent, dan Yon Erizon. Yon Erizon dan Syafri Ario digadang-gadang akan maju menjadi pesaing berat Aspon Dedi di pemilihan Ketua PWI Luak 50 periode berikutnya. Karna dipemilihan sebelumnya hanya Aspon Dedi dan Yon Erizon dengan kemenangan tipis.

Untuk menjegal atau memuluskan rencana dua periode Aspon Dedi tampaknya terindikasi sengaja mempersulit perpanjangan kartu PWI Syafri Ario karna untuk memperpanjang kartu PWI tersebut prosedur di organisasi PWI harus mendapatkan rekomendasi perpanjangan dari ketua kabupaten atau kota sebelum diajukan ke PWI Provinsi. Prosedur aneh tersebut tampaknya dimanfaatkan oleh PWI Luak 50 untuk menjegal lawan-lawannya sebelum bertanding.

Sejak awal memang Syafri Ario selalu dijegal dalam kegiatan-kegiatan PWI oleh pengurus PWI Luak 50 ditenggarai karna tidak senang Syafri Ario menjabat sebagai Ketua SMSI Luak 50 yang dianggap akan mengganggu dominasinya terhadap wartawan dan sumber daya di Luak 50.

“Padahal secara aturan tidak menyalahi, karna yang saya pimpin adalah organisasi perusahaan pers bukan organisasi wartawan, diaturan PWI yang tidak boleh adalah memimpin organisasi wartawan, ini murni hanya sikap tidak senang saja dan menganggap organisasi adalah tempat mencari uang kali, bukan untuk pengabdian dan pendidikan bagi para wartawan. Bagi saya tidak terlalu berharap menjadi Ketua organisasi ini tapi tentu publik perlu tau apa yang terjadi sebenarnya dan ini sekaligus koreksi bagi PWI agar tidak mempolitisasi organisasi pers, tidak mengelola organisasi pers secara serampangan,” ujar Syafri Ario.

Tampaknya pengaruh Syafri Ario menjadi ancaman bagi teman sejawatnya di PWI. Ini adalah sebuah realita yang menggelikan ketika berada di lingkungan pers yang mempunyai mind set tidak sehat. Beginilah pers dan organisasi pers jika dikelola tidak profesional dan tidak berangkat dari nurani panggilan jiwa untuk menjalankan fungsi pers yang mulia namun sebaliknya dijadikan ajang persaingan tidak sehat demi ambisi berbau amis di dunia pers. Ini tidak hanya terjadi di tingkat bawah karna baru-baru ini kita menyaksikan PWI pusat juga terbelah karna juga persaingan tidak sehat yang sudah keluar dari roh pers itu sendiri sebagai pilar keempat demokrasi.

“Saya berharap PWI kedepan betul-betul berbenah dan evaluasi aturan-aturan yang dapat mengkebiri wartawan-wartawan hebat di organisasi, sehingga organisasi wartawan seperti PWI semakin bermartabat, mendidik wartawan menjadi profesional dan berintegritas,” harap Syafri Ario.